Selasa, 07 Februari 2012

pemikiran islam


 
Makalah
Pemikiran Islam
Pengaruh Orientalisme Terhadap Wacana Pemikiran Islam
(Kasus Pemikiran Liberal)

Oleh : Agus Nasrullah
Mahasiswa STAI Luqman Al-Hakim Surabaya




Kata Pengantar
Alhamdulillah puji syukur senantiasa terucap dari lisan orang-orang yang beriman yang mana ucapan syukur tersebut merupakan salah satu cirri dari hamba-Nya yang bertaqwa. Sholawat serta salam semoga senantiasa kita sanjungkan kepada Rasul kita, nabi akhir zaman yaitu Rasulullah Muhammad SAW. Yang mana berkat perjuangan beliau kita bias merasakan nikmatnya Iman dan islam dan semoga kita termasuk dalam golongan orang yang mendapat syafaatnya.
Mengingat betapa pentingnya sebuah pemikiran maka pada makalah ini pemateri mencoba untuk mengupas suatu pemikiran yang tentu tidak asing lagi bagi kita yakni terkait pemikiran liberal yang saat ini kita kenal dengan JIL (jaringan islam Liberal). Pemikiran liberal merupakan sebuah paham yang sangat berbahaya sebab pemikirannya sudah jauh dari ajaran islam. Dan pembahasan kali ini meliputi pengaruh liberalisme dan liberalism dalam kajian islam.
Satu hal yang yang menjadi harapan pemateri yaitu dengan mengetahui letak kesalahan pemikiran liberal tersebut maka kita tidak lagi terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran tersebut.

Penulis
Kelompok 11












Daftar isi
1.   Cover…………………………………………………..
2.   Kata pengantar…………………………………………
3.   Daftar isi……………………………………………….
4.   Pembahasan……………………………………………
A. Orientalisme……………………………………..
B. Motif Orientalisme………………………………
C. Liberalisme………………………………………
D. Asas-asas liberalisme…………………………….
E.  Factor Munculnya liberalisme…………………..
F.   Liberalisme dalam kajian islam…………………..
5.   Kesimpulan……………………………………………
6.   Penutup………………………………………………..










Pembahasan
A. Orientalisme
ORIENTALISME adalah  golongan yang mengkaji hal-hal ketimuran sehingga orang barat yang mengkaji hal-hal ketimuran di sebut Orientalis.
Gerakan Orientalisme menyerang Islam melalui :
Ø  Menganggap al-Quran sebagai khayalan Muhammad dan tidak ada hubungannya dengan wahyu.   Aktiviti mereka digunakan untuk mencari kelemahan-kelemahan yang ada dalam Islam, dalam al-Quran dan al-Hadis, dalam diri junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w, dalam kerabat beliau dan dalam diri sahabat-sahabat beliau.
 Rangka Kerja Orientalisme: Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq merumuskan usaha Orientalisme dari dulu hingga kini :
Pengajaran di Universitias, Pengumpulan manuskrip. Penterjemahan dari Bahasa Arab ke bahasa Eropah. Penulisan dalam pelbagai bidang pengajian Arab dan Islam
B. Motif Orientalisme
Barat tertarik mengkaji timur dan islam di latar belakangi oleh motif berikut :
a)      Motif Keagamaan
Barat yang di satu sisi mewakili kristen memandang islam sebagai agama yang sejak awal menentag doktrin-doktrinnya. Karena islam penyempurna agama sebelumnya yang tentu banyak melontarkn koreksi terhadap agama itu, dan itulah yang menjadikan perseteruan dengan mereka.
b)      Motif Politik
Islam bagi barat adlah peradaban yang dimasa lalu telah tersebar dan menguasai peradaban dunia dengan begitu cepat. Barat yang baru bangkit dari kegelapan sadar akan kekuatan islam dan merupakan ancaman bagi politik dan agama mereka. Oleh karena itu mereka ingin menaklukan islam dan memajukan mereka sehingga kajian oroentalis bersifat politis yaitu untuk tujuan kolonialisme.[1]
C. Liberalism
Pengertian Liberalisme
Liberal adalah satu istilah asing yang diambil dari kata Liberalism dalam bahasa Inggris dan liberalisme dalam bahasa perancis yang berarti kebebasan. Kata ini kembali kepada kata Liberty dalam bahasa Inggrisnya dan Liberte dalam bahasa prancisnya yang bermakna bebas. [2]
Liberalisme adalah istilah eropa yang sangat samar sehingga para peneliti baik dari mereka ataupun dari selainnya berselisih dalam mendefinisikan pemikiran ini. Namun seluruh definisi yang ada kembali kepada pengertian kebebasan dalam pengertian barat tentunya.
Tertulis dalam The World Book Encyclopedia pada pembahasan Liberalism : “Liberalism dianggap sebagai istilah yang samar, karena pengertian dan pendukung-pendukungnya berubah dalam bentuk tertentu dengan berlalunya waktu”[3]
Oleh karena itu syeikh Sulaiman al-Khirasyi menyimpulkan bahwa Liberalisme adalah madzhab pemikiran yang memperhatikan kebebasan individu dan memandang kewajiban menghormati kemerdekaan individu serta berkeyakinan bahwa tugas pokok pemerintah adalah menjaga dan melindungi kebebasan rakyat, seperti kebebasan berfikir, mengungkapkan pendapat, kepemilikan pribadi dan kebebasan individu serta sejenisnya.
Ensiklopedia Inggris menuliskan: “Kata Liberty (kebebasan) adalah kata yang menyimpan kesamaran, demikian juga kata liberal. Seorang liberalis bisa jadi beriman bahwa kebebasan adalah masalah khusus individu semata dan peran negara harus terbatas atau bisa jadi beriman bahwa kebebasan itu adalah masalah khusus negara. Sehingga negara dengan kemampuannya atau kemungkinan menggunakannya sebagai alat penguat kebebasan” [Encyclopedia Britannica pada pembahasan liberalism, dinukil dari Hakekat Libraliyah al-Khirasyi, hal. 17]
LIBERALISME pada awalnya muncul sebagai mazhab sosial-politis yang mengajarkan kebebasan masyarakat dalam berpendapat, berserikat, dan berkumpul serta menentukan nasib
sendiri. Saat ini, proses liberalisasi sosial-politik, yang menandai lahirnya tatanan dunia abad modern, semakin marak. Liberalisasi sosial-politik ini kemudian disusul dengan liberalisasi di bidang ekonomi. Setelah menyentuh wilayah ekonomi, politik, dan sosial maka wilayah agama pun pada gilirannya dipaksa harus membuka diri untuk diliberalisasikan.
Dengan prinsip menjunjung tinggi kebebasan individual, liberalisme memperbolehkan setiap orang melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya.  Manusia tidak lagi harus memegang
kuat aturan-aturan agama. Bahkan, kalau memang aturan agama yang ada tidak sesuai dengan kehendak manusia, maka yang dilakukan kemudian adalah menafsir ulang ayat-ayat Tuhan agar tidak bertabrakan dengan prinsip-prinsip dasar liberalisme.
Maka pengaruh dari semua itu dapat terlihat dengan adanya, berbagai tindakan amoral sebagaimana yang terjadi pada kasus-kasus homoseksual, seks bebas, dan aborsi-- bisa dianggap legal karena telah mendapatkan justifikasi ayat-ayat Tuhan yang telah ditafsir ulang itu.[4]
D. Asas Pemikiran Liberal
Secara umum asas liberalisme ada tiga; kebebasan, individualis dan Aqlani (mendewakan akal).
1. Asas pertama: Kebebasan
Yang dimaksud disini adalah setiap individu bebas dalam perbuatannya dan mandiri dalam tingkah lakunya tanpa diatur dari negara atau selainnya. Mereka hanya dibatasi oleh undang-undang yang mereka buat sendiri dan tidak terikat dengan aturan agama. Dengan demikian liberalisme disini adalah sisi lain dari sekulerisme secara pengertian umum yaitu memisahkan agama dan membolehkan lepas dari ketentuannya. Sehingga menurut mereka manusia tu bebas berbuat, berkata, berkeyakinan dan berhukum sesukanya tanpa batasan syari’at Allah. Sehingga manusia menjadi tuhan untuk dirinya dan penyembah hawa nafsunya serta bebas dari hukum ilahi dan tidak diperintahkan mengikuti ajaran ilahi.[5] Padahal Allah berfirman:
Artinya: “Katakanlah:”Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupki dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya;dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [QS. Al-An'am: 162-163]
dan firman Allah:
Artinya: “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui“. [QS. al-Jaatsiyah : 18]
2. Asas kedua: Individualisme (Al-Fardiyah)
Dalam hal ini ada dua pemahaman dalam Liberalisme:
a. Individual dalam pengertian ananiyah (keakuan) dan cinta diri sendiri. Pengertian inilah yang menguasai pemikiran eropa sejak masa kebangkitan eropa hingga abad keduapuluh masehi.
b. Individual dalam pengertian kemerdekaan pribadi. Inilah pemahaman baru dalam agama liberal yang dikenal dengan Pragmatisme.[6]
3. Asas ketiga: Mendewakan Akal (Aqlaniyah)
Dalam pengertian kemerdekaan akal dalam mengetahui dan mencapai kemaslahatan dan kemanfaatan tanpa butuh kepada kekuatan diluarnya.
Hal ini dapat tampak dari hal-hal berikut ini:
a. Kebebasan adalah hak-hak yang dibangun diatas dasar materi bukan perkara diluar dari materi yang dapat disaksikan dan cara mengetahuinya adalah dengan akal, pancaindra dan percobaan.
b. Negara dijauhkan dari semua yang berhubungan dengan keyakinan agama, karena kebebasan menuntut tidak adanya satu yang pasti dan yakin; karena tidak mungkin mencapai hakekat sesuatu kecuali dengan perantara akal dari hasil percobaan yang ada. Sehingga -menurut mereka- manusia sebelum melakukan percobaan tidak mengetahui apa-apa sehingga tidak mampu untuk memastikan sesuatu. Ini dinamakan ideologi toleransi (al-Mabda’ at-Tasaamuh) . Hakekatnya adalah menghilangkan komitmen agama, karena ia memberikan manusia hak untuk berkeyakinan semaunya dan menampakkannya serta tidak boleh mengkafirkannya walaupun ia seorang mulhid. Negara berkewajiban melindungi rakyatnya dalam hal ini, sebab negara -versi mereka- terbentuk untuk menjaga hak-hak asasi setiap orang. Hal ini menuntut negara terpisah total dari agama dan madzhab pemikiran yang ada. [Musykilah al-Hurriyah hal 233 dinukil dari Hakekat Libraliyah hal 24]. Ini jelas dibuat oleh akal yang hanya beriman kepada perkara kasat mata sehingga menganggap agama itu tidak ilmiyah dan tidak dapat dijadikan sumber ilmu. -Ta’alallahu ‘Amma Yaquluna ‘Uluwaan kabiran-
c. Undang-undang yang mengatur kebebasan ini dari tergelicir dalam kerusakan -versi seluruh kelompok liberal – adalah undang-undang buatan manusia yang bersandar kepada akal yang merdeka dan jauh dari syari’at Allah. Sumber hokum mereka dalam undang-undang dan individu adalah akal.
G. Faktor Munculnya Liberalisme
Hume berkata bahwa Liberalisme muncul untuk menjawab tantangan zaman. Kemunculan Liberalisme merupakan keniscayaan sejarah.(Garandeu, Le Liberalisme). Sebagian orang berkata bahwa terdapat dua faktor utama dalam kemunculan Liberalisme dan faktor-faktor lain merupakan ikutan dari dua faktor utama ini.
Diantra faktor munculnya Liberalisme yaitu:
·         Pemerintah Tiran
Adalah merupakan pemerintahan yang terlalu fokus pada dirinya sendiri di Eropa yang memandang dirinya sebagai pemilik jiwa, harta dan kehormatan masyarakat dan seenaknya mengambil keputusan tentang nasib dan masa depan mereka. Sebagai contoh jenis pemerintahan Prancis pada masa Louis 15 dan 16 (abad 18) yang merupakan seorang raja dan aristokrat yang berdasarkan pada tradisi keningratan, raja merupakan wakil Tuhan di muka bumi. Dan tidak seorang pun dibolehkan berkata apa pun tentang sang raja. Louis 16 pada Oktober 1887 di parlemen Paris berkata: “Raja tidak memiliki tanggung jawab apa pun kepada seseorang kecuali kepada Tuhan.”[7]


·               Perilaku Aparat Gereja
Gereja, alih-alih menjelaskan hakikat agama dan motivator masyarakat untuk melawan tirani dan kezaliman, malah terjerembab dalam kesalahan pahaman dan kekeliruan menjelaskan agama. Atas nama agama para pembesar gereja menerapkan metode kekerasan terhadap agama masyarakat. Berdasarkan keyakinan gereja abad pertengahan, sistem yang berlaku di muka bumi merupakan sistem yang berlaku di langit. Sistem ini merupakan sistem yang dikehendaki oleh Tuhan dan tidak dapat dirubah. Setiap orang, semenjak raja hingga jelata dan pengemis, harus menjalankan peran yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Sejatinya para pembesar gereja senantiasa menjadi penyokong sistem sosial dan politik dan sekali-kali tidak dapat menerima adanya penyimpangan. Pada masa ini, setiap orang terpenjara dengan perannya masing-masing dalam mekanisme sosial.”[8] Tujuan utama pandangan dunia Liberalisme semenjak kemunculannya, berperang melawan kekuasaan mutlak. Liberalisme pada awalnya bangkit melawan pemerintahan absolute gereja di belahan dunia Barat dan kemudian melawan pemerintahan absolut para raja.
H. Liberalism Dalam kajian Islam
Liberalisme adalah pemikiran asing yang masuk kedalam islam dan bukan hasil dari kaum muslimin. Pemikiran ini menafikan adanya hubungan dengan agama sama sekali dan menganggap agama sebagai rantai pengikat yang berat atas kebebasan yang harus dibuang jauh-jauh.
Sehingga Liberalisme sangat bertentangan dengan islam bahkan banyak sekali pembatal-pembatal keislaman yang ada padanya, diantaranya:
  1. Kufur
  2. Berhukum dengan selain hukum Allah
  3. Menghilangkan aqidah Al-Wala Dan Bara’
  4. Menghapus banyak sekali ajaran dan hukum islam.
Sehingga para ulama menghukuminya sebagai kekufuran sebagaimana dalam fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan yang dimuat dalam Surat kabar al-Jazirah hari Selasa tanggal 11 Jumada akhir tahun 1428 H.
Ulil abshor abdallah mengatakan “ semua agama sama, semuanya menuju jalan kebenaran, jadi islam bukan yang paling benar.[9]

KEKELIRUAN IDEOLOGI ISLAM LIBERAL

seorang tokoh di Malaysia, PROF. MADYA DR. MOHAMAD KAMIL ABDUL MAJID, dari Universiti Malaya, ketua Jabatan Dakwah dan Pembangunan Insan yang sedang mengetuai kajian tentang fahaman Islam liberal Saturday, May 14, 2011.  Berikut petikannya...

Apabila kita menyebut latar belakang pengaruh liberalisme terhadap Muslim, ia berlaku di negara kita adalah hasil daripada falsafah liberal yang wujud di Barat. Jadi apabila disebut liberalisme, modernisme, sekularisme, ia adalah “ideologi tiga beradik” yang saling berkait dan tidak dapat dipisahkan.


Sejak abad ke-15 lagi di Barat (terutama Perancis dan beberapa negara Barat) fahaman ini telah wujud ekoran kaum buruh yang tertindas oleh penguasa yang zalim – jadi golongan para ilmuwan dan filosuf mahu menggerakkan kemajuan tetapi ditentang oleh para penguasa yang disokong oleh gereja.


Liberalism itu ada dua sahaja. Satunya adalah sebagaimana yang diperjuangkan oleh tokoh-tokoh Islam yang membawa pembaharuan (Islah) seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Mereka mahu memajukan (liberal) masyarakat Islam tetapi dengan cara-cara yang dapat dianggap masih di dalam kawalan syariah.
Kedatangan faham liberalisme secara sengaja ataupun tidak dikatakan datang bersama kebangkitan semula Islam pada tahun 1970-an. Ia khususnya di Timur Tengah, terutamanya di Mesir.

Jika dirujuk kepada Mesir, apabila golongan Marxisme menyedari alirannya sudah tertolak; ia mula mengalihkan kepada aliran Islam – tetapi Islam yang dibawa mereka adalah Islam aliran Muktazilah – orang yang berfahaman kepada akal secara mutlak. Fahaman ini juga akhirnya sampai kepada peringkat mempertikaikan wahyu.

Antaranya bekas professor di Universiti Kahirah, Nasr Hamid Abu Zayd yang sekarang tinggal di Belanda. Yang lain ialah Hasan Hanafi, Mohamad Arkoun dan Amina Wadud, di Tunisia terdapat tokoh bernama Ali Harb – mereka yang disebut di atas adalah orang-orang yang mengepalainya.

Mereka mendakwa al-Quran itu bukan wahyu Tuhan yang asli, dakwa mereka wahyu itu sampai kepada Nabi Muhammmad tetapi apa yang dilafazkan Muhammad itu telah dibentuk di dalam bahasa nabi menurut sejarah dan budaya Arab.

Justeru, kononnya yang tertulis {naskhah al-Quran yang ada} bukan maksud al-Quran yang murni (asli). Mereka menyimpulkan al-Quran yang ada sekarang sebagai ciptaan Nabi Muhammad – sebagaimana tuduhan orientalis sebelum ini.
Tambah fahaman itu, kita tidak lagi memerlukan wahyu kerana akal manusia sekarang ini sudah lengkap daripada sudut ekonomi, sosial dan lain-lain tetapi yang paling penting pada manusia ialah akal.

Antara bahaya ajaran ini ialah akan lahir pengikut yang meremehkan al-Quran, meremehkan hadis dan otoriti ulama, ini kerana mereka menganggap ulamalah yang pandai-pandai “mentafsirkan” Islam.
Sedangkan mereka mahu supaya sesiapa sahaja dapat mentafsirkan Islam.Yayasan lain ialah yang berperanan dalam penyebaran Islam Liberal ini adalah Yayasan Fullbright, Yayasan Toyota, Yayasan Ford, dan Asia Foundation.
Dan di Indonesia, mereka berlumba-lumba menubuhkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau NGO yang mendapat bantuan badan-badan tersebut untuk mempromosikan Islam Liberal melalui buku-buku dan majalah.
Patut juga disebut bahawa mantan presiden ketiga, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah termasuk tokoh pendukung utama idea Islam Liberal ini. Gus Dur apabila ditanya sama ada bolehkah menerima bantuan daripada Amerika, kerana di sebalik bantuan tentu ada sesuatu di sebaliknya?
“Tak ada apa-apa, mereka itu wangnya banyak!” jawab Gus Dur .
Di Jakarta, universiti mereka bernama Paramadina, dan golongan ini telah menguasai Universiti Islam Negeri (UIN) Jakarta. Tokoh-tokoh mereka adalah pengajar di universiti itu – antaranya Azyumardi Azra, Komarudin Hidayat, Kausari Noer dan beberapa lagi.
Upaya menyatukan liberalism kedalam islam sudah dilakukan oleh gerakan ‘Islahiyah’ pimpinan Muhammad Abduh dan para muridnya kemudian ditahun 60-an muncullah gerakan reformis (Madrasah At-Tajdid) dengan tokoh seperti Rifa’ah ath-Thohthawi dan Khoiruddin at-Tunisi. Demikian juga mereka sepakat menjadikan akal sebagai sumber hukum sebagaimana akal juga menjadi sumber hukum dalam agama liberal.
Sebenarnya hakekat usaha mereka ini adalah mengajak kaum muslimin untuk mengikuti ajaran barat (westernisasi) dan menghilangkan akidah islam dari tubuh kaum muslimin serta memberikan kemudahan kepada musuh-musuh islam dalam menghancurkan kaum muslimin.
Demikianlah usaha mereka ini akhirnya menghasilkan penghapusan banyak sekali pokok-pokok ajaran islam dan memasukkan nilai-nilai liberalisme dan humanisme kedalam ajaran islam dan aqidah kaum muslimin.


Kesimpulan
Dari bebarapa pembahasan di atas maka dapat di ambil suau kesimpulan bahwa Orientalisme berpengaruh pada wacana pemikiran islam yang mana dari adanya orang-orang barat yang mempelajari islam dan hal-hal ketimuran yang kemudian muncul paham-paham diantaranya liberalism, pluralism, skulerisme, hedonism dan lain sebagainya.


Penutup
Demikian makalah yang dapat kami paparkan semoga dengan adanya makalah ini akan menambah wawasan dan pengetahuan terkait pemikiran orientalisme dan liberalisme.



Daftar Pustaka
·      Zarkasyi, hamid fahmi :2008. “ liberalisasi pemikiran islam” ponorogo : Gontor
·       [Encyclopedia Britannica pada pembahasan liberalism, dinukil dari Hakekat Libraliyah al-Khirasyi, hal. 17]
·      Dwi Septina Rahayu SPi, Pengaruh Liberalisme dalam Kehidupan, Jum'at, 28 Desember 2007 WIB
·      Majalah GATRA, 21 Desember 2002
·    Ulil Abshar-Abdalla, Tentang Makna “Liberal” dalam Islam Liberal
Tanggal dimuat: 11/5/2003
·         Husain adian,2006 “Liberalisme islam di Indonesia fakta dan data” dewan dakwah islamiyah Indonesia





[1] Zarkasyi, hamid fahmi :2008. “ liberalisasi pemikiran islam” ponorogo : Gontor
[2] [Hakikat Liberaliyah wa mauqif Muslim minha, Sulaiman al-Khirasyi, ha.l 12]
[3] [Dinukil dari Hakekat Libraliyah, hal. 16].
[4] Dwi Septina Rahayu SPi, Pengaruh Liberalisme dalam Kehidupan, Jum'at, 28 Desember 2007 WIB
[5] [Lihat Dalil al-'Uqul al-Haa'irah Fi Kasyfi al-Mazhahib al-Mu'ashorah, Haamid bin Abdillah al-'Ali hal. 18]
[6] [lihat Hakekat Libraliyah al-Khirasyi, hal. 17]

[7] (Jack Isaac, Inqilab Buzurgh Faranse: 342).
 [8] (Erich Fromm, Escape from Freedom:60)

[9] Majalah GATRA, 21 Desember 2002

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar